SINJAI, Tindak.com - Angka kemiskinan bukan sekadar statistik. Di baliknya ada kehidupan warga yang menanti hadirnya kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar.
Hal itu dialami Darmawati, warga Dusun Jatie, Desa Samaturue, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.
Ia tercatat dalam kategori desil satu, namun hingga kini belum tersentuh program bedah rumah meski telah beberapa kali mengikuti pendataan.
Saat ditemui wartawan, Jumat 4 September 2026, Darmawati mengaku telah berulang kali didata sebagai calon penerima bantuan sosial. Namun, bantuan perbaikan rumah yang dinantikan belum juga terealisasi.
“Sudah sering didata, tetapi sampai sekarang belum ada bantuan bedah rumah. Penantian ini rasanya seperti igauan semata,” ungkapnya.
Keprihatinan tersebut mendorong Kepala Desa terpilih, Musliati, S.Pd., bersama Tata Usaha Desa Samaturue, Salmawati, temui Darmawati sekaligus menyerahkan bantuan pangan berupa beras Bulog.
Bagi Musliati, dengan kondisi yang seperti itu pemerintah harus hadir,bukan sekadar penyerahan bantuan, tetapi menjadi kesempatan untuk melihat langsung kondisi warga yang membutuhkan perhatian pemerintah.
Ia menegaskan, masyarakat miskin yang membutuhkan hunian layak akan menjadi salah satu perhatian dalam pemerintahan Desa Samaturue ke depan.
“Insya Allah, ke depannya kami akan memperjuangkan masyarakat miskin yang benar-benar memiliki hak, tanpa melihat status. Warga seperti inilah yang layak diperjuangkan hak-haknya, bukan karena kedekatan atau karena dia pendukung atau bukan,” tegas Musliati.
Menurutnya, pemerintah desa harus hadir secara adil bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan pilihan politik.
Kisah Darmawati sekaligus menjadi pengingat bahwa data kemiskinan semestinya tidak berhenti sebagai angka administratif. Data harus menjadi dasar intervensi kebijakan agar warga yang paling membutuhkan benar-benar mendapatkan hak dan perhatian.
Bagi Darmawati, bantuan beras mungkin belum menjawab persoalan hunian yang selama ini dinantikan. Namun, kepedulian tersebut menjadi harapan baru bahwa perjuangannya untuk mendapatkan rumah layak huni masih memiliki jalan.
Muh. Said Mattoreang