-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Halaman

Calon Bupati Terpilih Pilkada Serentak 2024

Calon Bupati Terpilih Pilkada Serentak 2024

Iklan

Mapag Tirta Kahuripan Pedar Sejarah : Tradisi Penghormatan Air yang Mengalir Sejak Zaman Kerajaan Panjalu

Tindak Online
Sabtu, 18 Juli 2026, Sabtu, Juli 18, 2026 WIB Last Updated 2026-07-18T06:41:12Z

Tindak, Guranteng Tasikmalaya,  – Di tengah hamparan tanah subur yang menjadi saksi bisu sejarah Kerajaan Panjalu, masyarakat wilayah Kahuripan kembali melaksanakan tradisi suci Mapag Tirta Kahuripan. Acara yang digelar setiap Tahun ini bukan sekadar seremonial, melainkan jembatan yang menghubungkan nilai-nilai leluhur dengan kehidupan masyarakat masa kini. Cikadu Desa Guranteng Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya Sabtu, 18-07-2026.


Makna di Balik Nama dan Sejarah

Kata Mapag berarti menyambut, sedangkan Tirta adalah air, dan Kahuripan bermakna kehidupan. Sejarah mencatat, tradisi ini telah ada sejak masa kejayaan Kerajaan Panjalu yang menguasai wilayah sebagian besar Jawa Barat, termasuk Tasikmalaya. Para leluhur meyakini bahwa air yang mengalir dari mata air suci di kawasan Kahuripan adalah anugerah yang menghidupi pertanian, sumber air bersih, serta menjaga keseimbangan alam dan keharmonisan masyarakat.

 

Menurut Tokoh Adat Panjalu Yayasan Borosngora, Raden H. Agus Kusnawan Cakradinata, "Zaman dahulu, para pemimpin Kerajaan Panjalu selalu mengingatkan bahwa air adalah nyawa. Jika kita tidak menjaganya dengan baik, maka kehidupan pun akan terganggu. Mapag Tirta Kahuripan adalah cara kita berjanji untuk terus menjaga warisan ini."

 

Rangkaian Acara yang Penuh Kehormatan

Kegiatan dimulai sejak sebelum hari H, dengan prosesi pembersihan mata air suci yang dilakukan oleh tokoh adat dan masyarakat Setelah itu, dilakukan pengambilan Air dari mata Air yang di sebut pancuran emas.

 

Puncak acara berlangsung pada Sabtu 18-07-2025 pagi hari, di mana rombongan masyarakat berjalan beriringan membawa wadah untuk mengambil air dari mata air tersebut. Air yang telah diambil kemudian disebarkan ke persawahan dan dibagikan kepada warga sebagai simbol berkah agar tanaman tumbuh subur dan keluarga sehat sentosa.

 

Acara ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional seperti tarian daerah, pencak silat dan kesenian lainnya. Ratusan warga dari desa Guranteng dan sekitar desa Panjalu turut hadir, mempererat persaudaraan antarwarga.

 

Kepala Desa Guranteng, Nunu Supriatna, menyampaikan harapannya: "Kita tidak boleh melupakan akar sejarah kita dari Panjalu khususnya Yayasan Borosngora. Semoga generasi muda juga mencintai dan melestarikan Mapag Tirta Kahuripan ngaguar cakrabuana, agar pesan tentang menjaga alam dan hidup rukun tetap terjaga sampai kapanpun."

 

Dengan penuh sukacita dan rasa syukur, tradisi ini kembali membuktikan bahwa di tengah arus kemajuan, masyarakat Kahuripan tetap teguh memegang nilai luhur yang diwariskan leluhur: menghormati alam, menjaga persaudaraan, dan mensyukuri segala anugerah yang diberikan.

Pewarta: Redi 





Komentar

Tampilkan

  • Mapag Tirta Kahuripan Pedar Sejarah : Tradisi Penghormatan Air yang Mengalir Sejak Zaman Kerajaan Panjalu
  • 0

Terkini