Dudi Daudi Pimred media TINDAK
Berbicara mengenai lembaga pendidikan di SMPN 1 Pagerageung yang ahir ahir ini viral di Media Sosial karena memberikan sangsi tegas terhadap 8 siswa yang nakal dengan sangsi dikembalikan kepada orang tua siswa masing masing. Saya jadi teringat pada nostalgia waktu masih sekolah di SMPN 1 Pagerageung pada tahun 1983, dimana pada saat itu belum seenak anak anak generasi millenial seperti sekarang ini. Ke Sekolah boro boro membawa kendaraan dan memegang gadget untuk membuka akses ke dunia maya yang bisa jawab sejuta tanya. pokoknya serba terbatas dan prihatin lain dengan anak anak Sekolah sekarang yang dimanja orang tua dan hidup serba mudah, kalau pun ada yang gaya hidupnya agak "wah" itu hanyalah anak anak orang berada yang ortu nya hidupnya berkecukupan.
Namun yang paling berkesan pada waktu sekolah bukan dari seberapa besar uang jajan dari orang tua dan merk sepatu apa yang dipakai, akan tetapi betapa takutnya saya kepada guru pengajar yang keras dalam memberikan pelajaran dan tegasnya Kepala Sekolah dalam menerapkan disiplin di Sekolah. Pada saat itu kami anak anak sekolah tidak diberi ruang kebebasan yang menjurus kepada kenakalan remaja. Tetapi harus fokus belajar, dan mentaati tata tertib yang diterapkan di Sekolah. Pada saat itu sangsi bagi siswa siswi yang nakal dan melanggar aturan sangat keras dilakukan. Kami pun merasa terbelenggu karena harus patuh dan tunduk atas segala aturan dan tata tertib yang diterapkan di Sekolah.
Masih ingat sampai saat ini sekelompok anak anak nakal termasuk saya disuruh maju kedepan pada saat upacara bendera. Satu persatu oleh Kepala Sekolah disebut nama dan jenis kenakalan yang telah dilakukan didepan para siswa dan guru. Saya hanya bisa tertunduk malu tanpa berani menatap wajah sang Kasek yang keras. Saya dan teman yang lainnya saat itu harus menjalani hukuman dengan tetap berdiri didepan sampai upacara bendera selesai.
Meski sudah lama berlalu, masih terngiang ditelinga saya kata kata dari Kepala Sekolah SMPN 1 Pagerageung, yang bernama Bapak Darwin.
"Kalian adalah generasi penerus yang akan meneruskan cita cita bangsa menuju kearah kehidupan yang maju dan sejahtera. Namun jika kalian lemah dan bodoh maka negara akan diwarisi kemiskinan dan kemunduran. Makanya kalian harus mempersiapkan diri sejak dini, ingat 20 tahun kedepan kalian akan jadi apa? Kalian akan seperti apa ?"
Tambahnya lagi, 'hanya ada tiga hal yang bisa membentuk pribadi yang kuat dan hebat yaitu disiplin, tegas, dan bertanggungjawab. Jangan menjadi generasi muda yang malas dan sontoloyo, jadilah anak muda yang rajin belajar, cerdas dan disiplin dalam kehidupan, maka niscaya kalian akan menjadi generasi emas yang bisa diharapkan orang tua, bangsa dan negara,"
Pada saat sekolah di SMPN 1 Pagerageung saya memang merasa tertekan oleh tugas dan pengawasan ketat dari para guru, tetapi bagaimana pun harus diterima dengan segala konsekwensinya, karena tujuan orang tua menyekolahkan saya ke Sekolah agar diberi pendidikan dan pelajaran, juga agar dibina dan diasuh dengan harapan agar menjadi anak yang pintar, memiliki ilmu pengetahuan, berperilaku baik dan berkarakter. Demi untuk menyambut masa depan yang gemilang.
Tiga tahun ditempa di SMPN 1 Pagerageung, lulus pada tahun 1985. Kemudian tiga tahun digodok lagi di SMA Negeri Ciawi, lulus tahun 1990. Lagi lagi harus menelan pil pahit karena penerapan disiplin yang sangat ketat yang diberlakukan oleh pihak sekolah. Untuk bisa mendapatkan ijasah dari sekolah itu tidak mudah, apalagi sekolah yang saya masuki termasuk sekolah unggulan yang ada di Tasikmalaya Utara, semuanya dijalani dengan proses perjalanan yang penuh dinamika, terutama dalam menentukan nilai nilai baik dan benar. Kalau di SMPN 1 Pagerageung ada Pak Darwin Kasek yang sangat ditakuti anak anak karena ketegasannya dalam memberikan hukuman di Sekolah, sedangkan saat di SMA Negeri Ciawi bertemu Kepala Sekolah yang tak kalah tegas dan sangat disiplin, yaitu Pak Muhtar Barnakusumah. Pokoknya jika anak anak nakal berhadapan dengan dua sosok kepala Sekolah ini akan mati kutu karena akan mendapatkan hukuman yang keras.
Dibenak saya saat itu Kepala sekolah galak dan tak punya perasaan, juga para guru dianggap sangat membatasi segala kebebasan di sekolah, padahal dibalik semua itu saya baru menyadari, bahwa ada satu tujuan yang mulia dari para guru agar anak anak memiliki sumber daya manusia yang unggul dan bermartabat. Menjadi generasi penerus yang terampil dan berilmu pengetahuan, bukan menjadi generasi muda yang gagal dan terjerumus kedalam jurang kerusakan yang dalam.
Tidak akan pernah saya lupakan, betapa sangat sayangnya guru kepada anak didiknya, saya yang saat itu pernah mogok belajar waktu kelas dua di bangku SMANIC, Kepala Sekolah R.Muhtar Barnakusumah beserta para guru mendatangi rumah saya dan menemui kedua orang tua saya. Kepala Sekolah beserta guru saat itu ingin melihat situasi dan kondisi apa yang sebenarnya terjadi dengan saya sehingga jarang sekolah. Apakah faktor ekonomi? faktor keluarga? atau faktor kenakalan yang dibiarkan? .Sungguh ini merupakan upaya untuk menyelamatkan saya agar bisa terus mengikuti pendidikan di sekolah,
Home visit adalah bagian dari penerapan disiplin dalam menjalankan proses Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah. Pihak sekolah dan orang tua siswa bekerjasama untuk menyelamatkan anak didik agar bisa melanjutkan sekolah, karena sejatinya pendidikan itu dimulai dari rumah, sekolah dan lingkungan yang baik. Apakah sekolah sekolah yang ada saat ini sudah melakukannya,? Jika tidak dilakukan, itu berarti sekolah abai dan membiarkan anak didik tanpa ada rasa tanggung jawab.
Waktu saya sekolah kenakalan masih dalam batas toleransi, tidak ada istilah bully atau menganiaya dan memalak teman sekolah. Merokok pun tidak mengenal. Tapi anak anak sekarang kenakalannya sudah melebihi batas. Seolah tidak takut kepada guru dan orang tua. Mungkin bisa saja dari pengaruh lingkungan dan dampak dari kemajuan jaman yang semakin kompleks, terutama dampak dari medsos yang dengan mudahnya masuk kedalam batas ruang dan waktu.
Menyikapi permasalahan siswa nakal di sekolah itu sudah biasa. Tiap sekolah mempunyai SOP dan aturan tersendiri dalam menerapkan aturan dan tata tertib di sekolah, yang tak bisa diintervensi oleh pihak lain, asalkan semua yang dilakukan demi untuk menyelamatkan anak didik agar bisa lebih baik dalam sikap dan tingkah laku. Di Sekolah bukan hanya mengejar nilai akademik semata tetapi juga akhlak yang baik. Dimana penerapan sangsi terhadap siswa nakal adalah sebagai upaya dalam membentuk karakter yang baik dan beradab.
Bicara soal sangsi DO yang dijatuhkan terhadap 8 anak nakal di SMPN 1 Pagerageung, keputusan yang diambil itu sudah tepat jika benar benar melalui tahapan yang persuasif, dan tentunya bagi anak anak itu sendiri demi terbentuknya karakter kearah yang lebih baik. Mereka pada hakikatnya bukan dikeluarkan oleh Sekolah tetapi dikembalikan kepada orangtuanya untuk dibina lebih baik lagi oleh orang tua nya. Baik untuk terus belajar pada lembaga lain yang bisa memberikan pembinaan lebih baik, atau dengan cara lain yang memang bagi SMPN 1 Pagerageung sudah kewalahan oleh tingkah laku kenakalan anak anak tersebut. Bahkan dikhawatirkan akan mempengaruhi anak anak yang lainnya.
Bagi pihak Sekolah SMPN 1 Pagerageung bukan melempar tanggung jawab begitu saja, atau sikap cuci tangan yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Ini semuanya merupakan penegakkan disiplin yang selama ini sudah diterapkan dan merupakan tanggungjawab yang lebih besar untuk menyelamatkan Siswa Siswi lainnya dari dampak buruk kenakalan mereka.
Benar sekali apa yang dikatakan oleh Pak Darwin Kepala Sekolah SMPN 1 Pagerageung, 42 tahun lalu, bahwa disiplin, tegas dan tanggungjawab adalah modal utama bagi pembangunan karakter yang berkualitas, bahkan merupakan kunci utama untuk menggapai sukses dan keberhasilan yang gemilang.
Kalimat "disiplin" itu mudah diucapkan dan ringan tanpa beban. Akan tetapi dalam pelaksanaannya sangat berat, pahit, dan seakan tak berperasaan. Seperti dalam permainan sepakbola jika ada pemain bermain kuat dan keras, itu bukan kasar dan tak berperasaan, tetapi bagaimana ia harus bisa menang dengan taktik dan strategi yang baik, yang mutlak ditunjang oleh kekuatan physik yang keras. Ingat dimanapun tim sepak bola yang loyo dan lemah akan mudah dikalahkan oleh tim yang keras dan kuat. Bukan menang karena kasar dan licik tetapi karena memiliki physics yang kuat dan keras, berkat disiplin dan rajin melakukan latihan.
Pada saat ini sangat penting untuk bertindak tegas. Bukan hanya omon omon tanpa realita. Tetapi harus bertindak tegas, cepat, tepat dan cermat itu mutlak harus dilakukan. Bukan hanya di lembaga pendidikan saja tetapi di lembaga mana pun harus berani mengambil keputusan yang tegas untuk dilakukan, kalau ingin ada perubahan kearah yang lebih baik. Tentu saja tanpa mengesampingkan kontruksi dari nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
Lebih jauh kita lihat bagaimana situasi kondisi kehidupan sosial-ekonomi, hukum dan politik di negara RI sebagai lembaga terbesar, selama ini masih carut marut dan jauh dari cita cita Reformasi. Korupsi semakin gila dan ugal ugalan, sementara rakyat harus menanggung beban ekonomi yang pahit. Elit politik lebih asyik mengamankan jabatan dan kekuasaan, sementara peran DPR sebagai wakil rakyat telah lumpuh dan perannya diambil alih oleh Mahasiswa yang gerakannya masih murni dan lurus. Hanya mahasiswa yang cerdas, berani dan berkarakter yang berani menyuarakan kebenaran dan keadilan dijalanan demi rakyat kecil.
Mengapa sampai terjadi dan memicu aksi demonstrasi dari Mahasiswa yang mendapat dukungan rakyat, karena pemerintah kita tidak tegas dan selama ini hanya banyak mengumbar janji yang tidak direalisasikan. Jauh dari negara Korea Selatan, China dan Jepang yang kemajuan tekhnologi dan perekonomiannya melaju kencang menyalip Amerika Serikat dan negara negara Eropa. Tiga negara Asia ini berubah menjadi negara maju dan kuat, karena pemimpinnya tegas dan berani menerapkan disiplin besi, terutama dalam memberantas kejahatan korupsi disetiap lini birokrasi.
Di China bagi koruptor kelas kakap hanya ada dua pilihan dieksekusi mati di tiang gantungan atau didor kepala nya. Bagi mereka membiarkan koruptor yang merampok anggaran negara sama saja dengan merusak negara dan kehidupan hajat orang banyak, maka tindakan korupsi harus diberantas dengan keras tanpa pandang bulu.
Itu hanyalah sebuah contoh, betapa dahsyatnya ketegasan dan kedisiplinan yang diterapkan bisa mengubah pola dan tata kehidupan bernegara yang lebih maju dan beradab. Tidak ada resiko dan konsekwensi negatip! Justru sebaliknya bisa mewujudkan tata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, maju dan disegani dunia. Pertanyaannya kenapa negara kita tidak bisa? mau sejak kapan punya sikap dan keberanian dalam mengambil keputusan yang tegas.
Maka saya simpulkan, untuk menerapkan disiplin yang tegas harus punya keberanian dan tekad dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, jangan terpengaruh oleh pihak pihak yang merasa tidak puas yang tidak tahu esensi dari tata tertib dan aturan yang telah digariskan. Untuk SMPN 1 Pagerageung maju terus demi mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan beradab. Jika semua sekolah dan elemen bangsa lainnya memberlakukan kedisiplinan yang keras dan tegas, niscaya negara pun akan memiliki pemimpin yang baik dan berkualitas. mampu membawa cita cita bangsa menuju masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.
Sesungguhnya keberhasilan dalam proses pendidikan di Sekolah atau pun di lembaga mana pun dalam mencetak generasi yang cerdas dan berkarakter, akan menentukan arah masa depan bangsa dan negara. Para siswa siswi yang sekarang digodok dengan disiplin keras niscaya akan menjadi generasi penerus yang baik dan berkualitas. Ingat masa depan bangsa ada dipundak generasi muda, generasi muda yang baik akan patuh dan hormat kepada guru pengajar yang selalu mengasuh, membina dan menjaga dengan penuh tanggungjawab.
Sementara orangtua siswa adalah penanggung jawab utama yang harus berani menerima resiko dan konsekwensi dalam mengasuh anak nya. Siapapun sangat sayang terhadap anak nya, adapun sangsi terhadap anak nya yang nakal dan dikhawatirkan bisa membahayakan pihak lain dan dirinya sendiri, itu adalah sebuah teguran yang sangat baik yang bisa menyelamatkan anaknya dari kegagalan. Bahkan harus menjadi titik balik untuk membuktikan diri bahwa dirinya bisa berubah dan punya prestasi meski harus belajar di tempat lain. Orang tua Siswa harus legowo dan memberi motivasi bagi anaknya untuk tidak cengeng dan berani menerima kenyataan. Secara psikologis saya percaya bahwa mental anak nakal dan bengal itu lebih kuat dibanding anak pendiam, jadi tinggal bagaimana sikap orang tua dalam mengurus dan menerapkan pola asuh terhadap anak nya. Apakah memproteksi anak dari pengaruh kenakalan yang merugikan, atau membiarkannya begitu saja tanpa pengawasan.
Sesungguhnya apa pun yang telah terjadi dan menjadi sebuah keputusan, juga ada dari pihak mana pun dalam menyikapi permasalahan di SMPN 1Pagerageung, ini semuanya dalam kerangka membangun bangsa bersama. Sepanjang demi kebaikan dan peningkatan kualitas SDM tidak ada yang harus disalahkan. Justru kalau ingin maju dan berprestasi kita harus tetap menegakkan kedisiplinan yang tegas.
Disiplin itu berat dan terasa pahit untuk dilakukan, namun kalau sudah menjadi watak dalam sikap dan perilaku kehidupan sehari-hari, hasilnya sangat baik dan bermanfaat dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Mengapa negara Singapura, Korea Selatan, China dan Jepang sangat maju, ternyata kunci keberhasilannya dengan hidup disiplin. Jika berkunjung ke Singapura jangan harap melihat puntung rokok dan sampah yang berserakan dipinggir jalan. Semuanya tertata rapih, bersih dan indah.
Semuanya dimulai dari yang kecil dulu, dimulai dari diri sendiri, dan dimulai pada saat ini. Semoga kita sadar dan menjadi bagian dari kehidupan yang berdisiplin**.
